Bone, Djuhandhani Rahardjo Puro menunjukkan sebuah gestur sederhana yang meninggalkan kesan mendalam.
Bertempat di Mako Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Sulsel, momen haru terjadi saat penyerahan bantuan program bedah rumah kepada warga kurang mampu.
Alih-alih sekadar menyerahkan kunci secara simbolis, sang Kapolda membungkukkan badan dan mencium tangan seorang nenek penerima bantuan.
Tindakan itu bukan sekadar formalitas, melainkan wujud nyata penghormatan, empati, dan kerendahan hati.
Suasana seketika berubah hening. Sang nenek tak kuasa menahan haru air mata menjadi bukti bahwa bantuan tersebut bukan hanya soal rumah layak huni, tetapi juga tentang rasa dihargai sebagai manusia.
Gestur tersebut mencerminkan nilai luhur budaya Bugis: sipakatau, sipakalebbi, sipakainge saling memanusiakan, menghormati, dan mengingatkan.
Nilai-nilai itu hadir bukan dalam kata-kata, melainkan dalam tindakan nyata.
Program bedah rumah ini diberikan kepada keluarga Kakek Fence, seorang pengumpul barang bekas yang sebelumnya tinggal di rumah tidak layak huni di Kelurahan Majang, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kabupaten Bone. Proses pembangunan berlangsung selama 19 hari, dikerjakan secara gotong royong oleh personel Brimob.
Momen ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu hadir dalam kebijakan besar, tetapi justru dalam sikap tulus yang menyentuh hati. Bahwa di balik seragam dan pangkat, ada kepedulian yang nyata—hadir untuk melayani dan mengayomi masyarakat dengan penuh kemanusiaan.